AP x Swatch “Royal Pop” Jadi Perbincangan Dunia, Kolaborasi yang Dinilai Membuka Era Baru Industri Jam Tangan

Kolaborasi antara Swatch dan Audemars Piguet resmi menjadi salah satu rilisan paling ramai dibicarakan di dunia horologi tahun 2026. Produk bernama “Royal Pop” tersebut langsung menarik perhatian sejak pertama kali diperkenalkan, tidak hanya dari komunitas kolektor jam tangan, tetapi juga dari industri fashion dan kultur streetwear modern.

Banyak pengamat menilai proyek ini menjadi langkah besar bagi Swatch maupun Audemars Piguet karena berhasil mempertemukan dua dunia yang selama ini terlihat sangat berbeda: luxury watch kelas atas dan pasar lifestyle modern yang lebih luas.

Audemars Piguet selama ini dikenal sebagai salah satu produsen jam tangan mewah paling eksklusif di dunia. Royal Oak, model ikonik mereka, bahkan telah lama dianggap sebagai simbol desain horologi modern sejak diperkenalkan pada tahun 1972.

Karena itu, keputusan AP untuk bekerja sama dengan Swatch langsung memancing perhatian global.

Hadir dengan Konsep yang Berbeda

Berbeda dari ekspektasi sebagian penggemar, AP x Swatch “Royal Pop” tidak hadir sebagai wristwatch tradisional.

Swatch dan AP justru memilih konsep jam saku modern yang dipadukan dengan lanyard kulit premium sehingga dapat digunakan sebagai aksesori wearable fashion.

Keputusan tersebut sempat memunculkan pro dan kontra di komunitas kolektor.

Sebagian berharap kolaborasi ini menghadirkan versi Royal Oak yang lebih konvensional untuk dipakai di pergelangan tangan. Namun sebagian lain menilai pendekatan berbeda tersebut justru membuat Royal Pop memiliki identitas yang lebih kuat dan tidak sekadar menjadi replika murah dari model aslinya.

Pendekatan ini juga dianggap sebagai cara untuk menjaga eksklusivitas desain Royal Oak yang selama ini menjadi simbol utama Audemars Piguet.

Tetap Membawa DNA Royal Oak

Meski hadir dalam format berbeda, identitas Royal Oak tetap terlihat jelas pada Royal Pop.

Bezel segi delapan khas AP masih menjadi pusat desain utama. Detail baut exposed yang selama ini menjadi ciri khas Royal Oak juga tetap dipertahankan sehingga nuansa Audemars Piguet tetap terasa kuat.

Selain itu, tekstur dial ala Petite Tapisserie juga dibuat cukup detail untuk menjaga karakter visual luxury watch khas AP.

Swatch tampaknya memang sengaja mempertahankan unsur-unsur utama Royal Oak agar Royal Pop tetap memiliki hubungan yang kuat dengan desain ikonik tersebut.

Delapan Varian Warna dengan Nuansa Pop-Art

Royal Pop hadir dalam delapan pilihan warna berbeda.

Angka delapan dipilih sebagai simbol penghormatan terhadap bezel oktagonal Royal Oak yang selama puluhan tahun menjadi identitas Audemars Piguet.

Koleksi ini dibagi menjadi dua kategori desain utama, yaitu Lépine dan Savonnette.

Versi Lépine tampil lebih minimalis dengan dua jarum utama dan posisi crown di bagian atas.

Sementara Savonnette hadir lebih kompleks dengan tambahan subdial detik kecil serta posisi crown di sisi kanan.

Pilihan warnanya dibuat lebih ekspresif dibanding jam tangan Swiss tradisional pada umumnya.

Mulai dari pink terang, hijau neon, navy-oranye, hitam putih monokrom, hingga kombinasi turquoise dan kuning cerah.

Pendekatan warna tersebut memperlihatkan bahwa Royal Pop memang dirancang untuk lebih dekat dengan kultur fashion modern dan generasi muda.

Menggunakan Movement Mekanikal

Salah satu faktor yang paling banyak mendapat perhatian adalah penggunaan movement mekanikal.

Swatch membekali Royal Pop dengan Sistem51 hand-wound, bukan mesin quartz biasa seperti yang digunakan pada sebagian besar koleksi Swatch sebelumnya.

Langkah tersebut cukup mengejutkan karena movement mekanikal manual winding biasanya lebih identik dengan jam tangan premium.

Royal Pop juga memiliki cadangan daya hingga sekitar 90 jam, angka yang cukup impresif untuk produk di kelas harga tersebut.

Selain itu, sejumlah fitur premium juga turut hadir, seperti:

  • Kristal safir depan dan belakang
  • Exhibition caseback transparan
  • Pegas anti-magnetik Nivachron
  • Super-LumiNova
  • Dial textured ala Royal Oak

Spesifikasi tersebut membuat banyak kolektor melihat Royal Pop sebagai produk yang lebih serius dibanding sekadar kolaborasi fashion biasa.

Harga Retail dan Potensi Pasar Sekunder

Untuk pasar global, versi Lépine dijual di kisaran USD 400 atau sekitar Rp6,5 juta.

Sementara versi Savonnette berada di angka sekitar USD 420 atau sekitar Rp6,8 juta tergantung kurs mata uang saat peluncuran.

Harga tersebut dianggap cukup menarik mengingat nama besar Audemars Piguet yang melekat pada produk ini.

Sebagai perbandingan, Royal Oak original milik AP memiliki harga mulai dari ratusan juta rupiah untuk model entry-level dan dapat mencapai miliaran rupiah untuk model tertentu.

Namun seperti rilisan hype sebelumnya, tantangan terbesar diperkirakan bukan soal harga retail, melainkan ketersediaan stok.

Antrean pembeli mulai terlihat di sejumlah toko Swatch dunia bahkan sebelum penjualan resmi dimulai. Kondisi ini membuat banyak pihak memprediksi harga resale Royal Pop akan langsung meningkat dalam waktu singkat.

Di Indonesia, harga pasar sekunder diperkirakan dapat berada di kisaran:

  • Rp12 juta hingga Rp18 juta untuk model reguler
  • Rp20 juta hingga Rp30 juta untuk warna paling dicari
  • Berpotensi lebih tinggi jika stok global sangat terbatas

Menjadi Simbol Perubahan Dunia Horologi

AP x Swatch “Royal Pop” menunjukkan bagaimana industri jam tangan modern kini terus berkembang mengikuti perubahan budaya populer dan gaya hidup generasi baru.

Jika sebelumnya luxury watch identik dengan pendekatan formal dan eksklusif, kini desain yang lebih ekspresif dan dekat dengan kultur fashion mulai semakin diterima pasar.

Royal Pop mungkin tidak akan menjadi produk yang disukai semua kolektor tradisional. Namun sebagai kolaborasi yang berhasil menciptakan perhatian global dalam waktu singkat, proyek ini telah membuktikan bahwa dunia horologi modern kini tidak hanya berbicara soal mekanisme dan material mahal, tetapi juga tentang identitas visual, budaya populer, dan kemampuan sebuah produk untuk menjadi fenomena global.